Rintis Bisnis Sejak ABG, Kini Yasa Berpenghasilan Rp150 Juta per Bulan

Posted on 2016-04-29 14:41



Yasa Paramita Singgih (21) belajar jadi pengusaha sejak usia 15 tahun. Saat itu dia masih duduk di kelas 3 SMP di Regina Pacis, Jakarta. Saat anak seusianya sibuk bermain dan menikmati masa kecil, tapi Yasa memilih mengumpulkan pundi-pundi rupiah. 

Faktor pendorong Yasa ingin jadi pengusaha karena terdesak kebutuhan, ayahnya divonis menderita hipertensi yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Jalan satu-satunya supaya sembuh dengan dipasang ring di pembuluh darah.

Pengobatan penyakit tersebut membutuhkan biaya hingga Rp150 juta. Saat itu kedua orangtua Yasa memiliki cukup uang untuk berobat, namun pas-pasan. Sedangkan di sisi lain, kebutuhan Yasa dan dua kakaknya harus tetap terpenuhi.

"Pertama terlintas dalam fikiran saya adalah tidak merepotkan orangtua, jadi mencari cara supaya bisa membiayai diri sendiri," kata Yasa saat berbincang denganMoney.id di kediamannya, kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Rabu 10 Februari 2015.

Kemudian Yasa bergabung bergabung bersama beberapa rekannya yang bekerja di event organizer (EO). Ketika itu mereka menggarap berbagai acara ulang tahun sweet seventeen anak baru gede (ABG).

Berbekal tampang necis pria kelahiran 23 April 1995 tersebut dipercaya jadi Master of Ceremony (MC). Dia harus tampil di hadapan banyak orang untuk membawakan sebuah acara.

"Saya dibayar Rp350 ribu sekali acara, waktu itu menggarap berbagai acara ulang tahun, tetapi kebanyakan sweet seventeen," ucap dia.

Mulai usaha

Setelah lulus SMP, Yasa memilih berhenti jadi MC dan memulai usaha sendiri. Saat itu dia merintis usaha jadi reseler kaus yang dibeli dari kawasan pasar Tanah Abang.

Memang dari kediaman Yasa di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan hingga ke pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat jaraknya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 26 kilometer.

Perjuangannya merintis sangat berat, meski saat itu masih duduk di kelas 1 SMA namun dia sudah berani belanja seorang diri di tengah hiruk pikuk pasar terbesar di Asia Tenggara tersebut.

"Modal saya gunakan untuk jualan hasil dari jadi MC, tidak dari orangtua," kata Yasa.

Demi tekadnya mengumpulkan pundi-pundi rupiah, dia harus duduk berjejal dengan belasan lusin kaus di dalam sebuah kendaraan bermotor roda tiga yang disebut Bajaj.

Namun terkadang dia berbelanja kaus menggunakan kendaaraan sendiri bersama kakak atau keluarga lainnya. "Kaus saya jual secara online dengan harga lebih tinggi," jelasnya.

Saat jadi reseler kaus, Yasa mengurusi sendiri semua usahanya. Tidak hanya belanja saja, promosi secara online dan pengiriman dilakukan tanpa bantuan siapapun.

"Bagi anak umur 16 tahun, itu untungnya sangat lumayan, bisa untuk uang jajan dan untuk menabung, bahkan bayar sekolah," kenangnya.

Meski saat itu usia Yasa masih belasan tahun namun bisnis dijalankannya tidak hanya satu, dia juga sempat menjajal bisnis warung makan tau kafe kecil di kawasan Jalan Panjang, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Namun bisnis kafe tersebut tidak semulus bisnis fashion dijalannya.

"Dulu bisnis kafe tutup, padahal sudah ada dua cabang," tutur dia.

Rintis Men's Republic

Kegigihan Yasa tidak surut meski bisnisnya pernah gagal, pada usia 19 tahun tepatnya hendak masuk kuliah di Bina Nusantara, Jakarta dia mulai merintis online shop bernama Mens's Republic.

Barang-barang dijual adalah pakaian pria mulai dari sepatu, sandal, kaus, jas dan jaket. Memang Men's Republic tidak memiliki pabrik sendiri, tapi dia menggandeng beberapa perajin di Jakarta, Bandung dan Tangerang.

"Saya dari dulu kalau libur sekolah, suka jalan-jalan ke Bandung atau ke beberapa kota lain untuk mencari perajin sepatu, sandal dan lainnya," ujarnya.

Jaringan tersebut Yasa dapatkan dari komunitas pengusaha yang dia ikuti, dari sana dia berbagi informasi seputar dunia usaha terutama di bidang fashion.

"Jadi teman-teman pengusaha lain ada yang memberitahu, misalnya sepatu di Cibaduyut, Bandung terus kulitnya dari Garut," imbuhnya.

Omzet Men's Republic

Kini online shop Men's Republic sudah berjalan sekitar dua tahun, omzetnya sudah mencapai lebih dari Rp100 juta hingga Rp150 juta setiap bulannya.

"Sekarang omzet lumayan, kalau hari-hari biasa bisa Rp3 juta hingga Rp4 juta, tapi kalau menjelang Lebaran bisa mencapai Rp7 juta hingga Rp8 juta sehari," tutur Yasa.

 Yasa mengaku, barang paling banyak dibeli konsumen di Men's Republic adalah sepatu kulit. Kata dia, 80 persen dari hasil penjualannya didapat dari sepatu. Sepatu dia jual harganya dipatok mulai dari Rp200 ribuan, Rp300 ribuan dan termahal Rp700 ribuan.

"Paling laku pastinya yang termurah, setiap hari bisa terjual 20-25 pasang sepatu," katanya.

Kemudian untuk barang-barang aparel seperti, kaus, kemeja, jas dan jaket sehari hanya terjual 5 hingga 10 potong saja. "Kami memang saat ini fokus di sepatu dulu," ujarnya.

Dalam menjalankan usahanya, Yasa dibantu oleh beberapa orang karyawan, empat di antaranya merupakan pekerja tetap untuk melayani konsumen yang berbelanja secara online.

Kemudian dua lainnya adalah pekerja lepas, yang merupakan desiner grafis dan pembuat website. "Sisanya adalah mitra yang membuat sepatu, kaus, kemeja, jas dan jaket," ucap Yasa.








Cerita Unik Lainnya

Posted on 2016-02-01 14:03
Posted on 2016-02-04 00:40
Posted on 2016-01-23 01:44