Mantan Sales Kain Beromset Miliaran Rupiah Per Bulan

Posted on 2016-02-05 00:40



CATATAN UANG - Istilah tukang kantau memang tak asing di Pasar Tanah Abang. Pasar tekstil dan pakaian terbesar di Asia Tenggara ini sudah jadi tumpuan hidup orang banyak, termasuk Yoke Ferdian, yang menjalani kehidupan sebagai Tukang Kantau.

Berawal dari pekerjaan Yoki di sebuah toko di Tanah Abang dengan  gaji Rp 150 ribu per minggu. Menyiasati tingginya biaya hidup di Ibu Kota, Yoki terpaksa menumpang di indkos temannya. Tak puas dengan pendapatan yang ada, Yoki banting stir menjadi Tukang Kantau atau sales bahan dan kain yang ada di Tanah Abang.

Karena profesi nyaris tanpa modal. Yoki hanya cukup mengandalkan sample bahan dari gudang penyimpanan lalu menawarkan ke toko-toko di Tanah Abang. Tak jarang, banyak toko pada awalnya menolak. Namun, bila pemilik toko berminat, si “Tukang Kantau” tersebut baru bisa memperoleh penghasilan.

Yoki menikmati karirnya sebagai Tukang Kantau hampir 8 tahun lamanya. Tepat di tahun 2012, ia memutuskan untuk menjadi pengusaha hijab. “Keputusan ini saya ambil berdasarkan pengalaman selama 8 tahun dan hubungan baik dengan beberapa penjual bahan yang ada di Tanah Abang,” katanya.

Tekadnya yang keras untuk maju membuat ia bisa meyakinkan para juragan kain atau bahan di Tanah Abang, sehingga ia bisa mendapat kepercayaan untuk mengambil  barang terlebih dahulu. “Barang tersebut akan saya bayar 2 minggu sampai 1 bulan kemudian,” katanya. Sebagai pengusaha pemula, Yoki menjual hijab produk sendiri dengan merekyang diambil dari nama depan dia dan istrinya, yaitu Yoki dan Yani, disingkat menjadi “Yoya”.

“Produksi saya yang pertama  awalnya sekitar 80 hijab, dijual di lapak atau persis didepan toko-toko yang kebetulan tutup. Kalau tokonya buka saya pindah tempat lagi dan mencari toko yang kebetulan tidak buka. Karena biasanya diPasar Tasik Thamrin City ini ada toko yang hanya buka setiap Senin dan Kamis,” ujarnya.

Kekuatan produk Yoya Hijab sendiri terletak pada corak dan motifnya yang terbatas, sehingga membuat Yoya Hijab diperbincangkan banyak orang. “Hampir 20% konsumen Yoya datang dari mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Australia, Brunei Darussalam, serta beberapa negara di Asia Tenggara yang mayoritas penduduknya muslim,” katanya bangga.

Kini, kapasitas produksi Yoya Hijab tembus di angka 40.000 hijab perbulan dengan ratusan atau bahkan ribu corak dan motif yang variatif dan selalu tidak sama. Selain itu, untuk biaya produksi dan membeli bahan saja pria yang hobi bermain futsal ini bisa mengeluarkan modal untuk belanja bahan baku sekitar Rp 650 juta per bulan, sedangkan omzet penjualannya bisa mencapai Rp 1 miliar dalam satu bulan.

“Target saya berada di pusat atau sentra perdagangan grosir di setiap pulau di Indonesia, paling tidak di kawasan Indonesia Timur,” katanya. Saat ini,  manajemen Yoya Hijab, kata Yoki, sedang mempersiapkan semuanya. Mulai dari sistem, supply chain management, sampai pada aktivitas brandingmarketing dan selling.

Yoki pun mengakui,dibalik kesuksesannya selama ini ada tim atau karyawan yang membantunya bisa seperti ini. Karena itu, ia tak lupa selalu dekat dengan karyawan dan berupaya tetap rendah hati.

Hal tersebut dibuktikan dengan seringnya ia memberikan bonus kepada karyawan, mengingat peran penting mereka dalam pengembangan usahanya. Dan Yoki semakin yakin, dengan kerja keras, tekad yang membara untuk maju, selalu dekat dengan tim adalah kunci suksesnya dalam membesarkan Yoya Hijab.








Cerita Unik Lainnya

Posted on 2016-01-27 00:29
Posted on 2016-02-10 13:45
Posted on 2016-01-23 01:28