Kasih Seorang Ayah yang tak Terhingga

Posted on 2016-05-12 03:15



 

Pada suatu petang, ada seorang yang sudah tua bersama anak muda yang baru menamatkan pendidikan tinggi duduk berbincang-bincang di halaman sambal memperhatikan suasana di sekitar mereka. Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di ranting pohon berhampiran. Si ayah lalu menudingkan jari ke arah gagak sambil bertanya, “nak, apakah benda itu?”

“Burung gagak,” jawab si anak. Si ayah mengangguk-angguk, namun sejurus kemudian, sekali lagi ia mengulangi pertanyaan yang sama. Si anak menyangka ayahnya kurang mendengar jawabannya tadi lalu menjawab dengan sedikit kuat, “Itu burung gagak, ayah !”

Tapi sejurus kemudian si ayah bertanya lagi dengan soal yang sama. Si anak merasa agak keliru dan sedikit bingung dengan persoalan yang sama diulang-ulang lalu menjawab dengan lebih kuat, “burung gagak!”

Si ayah terdiam seketika. Namun tidak lama kemudian sekali lagi sang ayah mengajukan pertanyaan yang serupa, hingga membuat anak hilang kesabaran dan menjawab dengan nasa yang kesal kepada si ayah, “Gagaklah Ayah….”

Namun agak mengejutkan si anak, si ayah sekali lagi membuka mulut hanya untuk bertanya soal yang sama. Dan kali ini si anak benar-benar kehilangan kesabarannya dan menjadi marah, “Ayah ! saya tidak tahu ayah paham atau tidak. Tapi sudah lima kali ayah bertanya soal hal tersebut dan saya sudah juga memberikan jawabannya. Apa lagi yang mau saya katakan?”

“Itu burung gagak, burung ga… gak Ayah…,” kata si anak dengan nada yang begitu marah. Si ayah terus bangun masuk ke dalam rumah meninggalkan si anak yang kebingungan. Sesaat kemudian, si ayah keluar lagi dengan sesuatu di tangannya. Dia mengulurkan benda itu kepada anaknya yang masih geram dan bertanya-tanya, diperlihatkan sebuah Diary lama. “Coba kau baca apa yang pernah ayah tulis di dalam Diary itu,” pinta si ayah.

Si anak setuju dan membaca paragraph seperti berikut ini…. “Hari ini aku di halaman melamun dengan anakku yang genap berumur 5 tahun. Tiba-tiba seekor gagak hinggap di pohon.” Anakku terus menunjuk ke arah gagak dan bertanya, “Ayah, apakah itu?”

Aku menjawab, “Burung gagak”. Anakku terus bertanya soal serupa dan setiap kali aku menjawab dengan jawaban yang sama. Hingga 25 kali anakku bertanya demikian, dan demi cinta juga sayangnya, aku terus menjawab untuk memenuhi perasaan ingin tahunya. Aku berharap hal ini menjadi suatu pendidikan yang berharga.”

Setelah selesai membaca paragraph tersebut, sang anak mengangkat muka memandang wajah si ayah yang kelihatan sayu. Si ayah dengan perlahan bersuara, “Hari ini ayah baru bertanya kepadamu soal yang sama sebanyak lima kali dan kau telah kehilangan kesabaran dan marah.” 

Jika kita mempunyai orang tua yang telah tua, berpikirlah bahwa mereka sekarang tidak segagah dan sekuat dulu, ketika mereka masih muda. Mereka sekarang telah kembali pada sosok anak-anak yang membutuhkan empati, bimbingan dan perhatian, persis sama ketika kita anak-anak dulu. Jadi bersikaplah lebih sabar, telaten, dan dengarkan apa yang mereka mau, bukan yang kita mau seperti mereka juga melakukannya untuk kita dulu.

 








Cerita Unik Lainnya

Posted on 2016-01-23 01:10