Begini Cara Bijak Mengatasi Stres pada Anak

Posted on 2016-03-06 12:41



CATATAN UANG -  Idealnya, masa kecil adalah masa paling bahagia. Namun seperti halnya orang dewasa, anak-anak juga bisa mengalami stres. Banyak faktor pemicunya, mulai dari persoalan sekolah, konflik pertemanan, hingga masalah keluarga.

Lynn Lyons, psikoterapis dengan spesialisasi mengatasi masalah kecemasan keluarga, mengatakan, dalam kondisi tertentu, stres pada anak bisa dianggap normal. Ketika anak menghadapi ujian sekolah atau akan menjalani sebuah tes, wajar anak mengalami stres. Sayangnya, banyak orang tua tidak menyadari kondisi stres pada anak-anak. 

“Orang tua cenderung mengetahui kondisi stres mereka sendiri, tetapi tidak menyadari kaitan antara apa yang terjadi dalam keluarga dan bagaimana hal itu memengaruhi anak-anak mereka,” kata Sandra Hassink, MD., pimpinan Akademi Ilmu Kesehatan Anak-anak Amerika.

Hassink menambahkan stres pada anak bisa meningkat bersamaan dengan stres dalam keluarga. "Kebanyakan hal itu tidak diketahui,” imbuhnya.

Lantas bagaimana mengenali ciri anak yang stres? Dalam survei WebMD terhadap 342 pengunjung laman WebMD, secara acak diperoleh data, 72 persen anak yang mengalami stres menunjukkan perilaku negatif.

Berikut perinciannya, dengan satu anak bisa menunjukkan lebih dari satu sikap berikut:

- 43 persen orang tua mengatakan anak-anak mereka lebih sering membantah.
- 37 persen orang tua mengaku anaknya lebih sering menangis atau merengek.
- 34 persen orangtua menyaksikan anaknya terlihat selalu cemas dan mengkhawatirkan sesuatu.

Di samping itu, ada beberapa ciri fisik yang umumnya dimiliki anak-anak yang stres, seperti dijabarkan para orang tua yang disurvei:

- 44 persen orang tua mengatakan anak mereka mengeluhkan sakit kepala berkepanjangan.
- 44 persen orang tua mengatakan anak mereka mengalami sakit perut.
- 38 persen orang tua mengatakan anak mereka mengalami mimpi buruk dan masalah tidur.
- 20 persen orang tua mengatakan anak mereka mengalami penurunan nafsu makan atau perubahan kebiasaan makan.

Sebagai orang tua, Anda tak bisa menghindarkan anak dari stress. Namun, Anda bisa membantu mengatasi masalah dan mengurangi tingkat stres. Ketika mengalami stres dan tidak tahu bagaimana cara mengatasinya, anak bisa saja mencari pelarian dengan melakukan hal-hal negatif seperti tantrum (pada balita), merokok, atau mengurung diri.

Tentu saja, tidak mudah bagi orang tua menghadapi stres pada anak karena untuk setiap anak memiliki sifat dan cara penyelesaian masalah yang berbeda. Namun beberapa pendekatan berikut bisa membantu. 

Jadilah pendengar yang baik. Ada kalanya anak hanya butuh didengarkan. Bahkan jika mereka melakukan kesalahan, berusahalah menjadi pendengar yang baik terlebih dahulu. Berikan saran dan solusi hanya jika anak memintanya. Hindari sikap menyalahkan, menuduh, menggurui, atau membeberkan kesalahan-kesalahan anak tanpa memberi solusi.

Ide dasar pendekatan ini adalah mendengarkan keluh kesah anak dan membuat mereka merasa didengarkan dan dimengerti. Cobalah mendapatkan cerita utuh dengan memancing anak dengan pertanyaan, “Lalu, apa yang terjadi?” Jangan mendesak anak jika mereka tidak mau melanjutkan cerita. 

Tunjukkan empati. Tunjukkan Anda memahami apa yang dirasakan anak. Berikan ekspresi dengan kalimat yang menunjukkan empati seperti “itu pasti membuatmu sedih” atau “pantas kamu kecewa saat mereka tak mengajakmu bermain.” Anak perlu merasakan kehadiran Anda sebagai pendukung setia mereka.

Labeli perasaan anak. Anak balita pun bisa mengalami stres. Sayangnya, mereka belum bisa mengungkapkan apa yang dirasakan dengan kata-kata sehingga yang keluar hanya tangisan bahkan tantrum. Bantu mereka mengidentifikasi perasaan dan memberikan label emosi kepada mereka.

Cobalah dengan bertanya, “Adik marah? Adik sedih? Tidak apa-apa, ibu akan terus temani kamu di sini, kok,” misalnya.

Dengan begitu, anak akan belajar mengidentifikasi, perasaan mereka saat itu adalah rasa sedih atau marah, juga mengembangkan kewaspadaan kondisi emosionalnya.

Cegah penyebab stres. Jika Anda mengetahui situasi tertentu bisa menyebabkan stres, carilah kemungkinan untuk mengubah situasinya. Misalnya, jika pemicu stres pada anak adalah karena terlalu banyak kegiatan sepulang sekolah, atur kembali jadwal kegiatan anak. Kurangi kegiatan yang kurang diminati anak. Berikan waktu yang cukup untuk anak bermain dan beristirahat.

Pastikan Anda selalu ada untuk anak. Ada tipe anak yang tidak suka mengungkapkan kegelisahan. Tak masalah. Yang terpenting anak tahu Anda akan selalu ada dan siap membantu kapan pun dibutuhkan. Bahkan jika anak tak mau bicara sepatah kata pun tentang persoalan mereka, cobalah mengajak mereka melakukan kegiatan menyenangkan seperti menonton film, makan di restoran favorit, atau masaklah makanan kesukaan mereka agar suasana hati mereka lebih baik.

Bukankah menyenangkan ketika tahu kehadiran Anda sangat berarti bagi an










Cerita Unik Lainnya

Posted on 2016-03-09 22:55
Posted on 2016-02-01 14:03
Posted on 2016-01-28 00:07